Loading

Mercy Corps dan JEMARI Sakato

Bangun Sistem Informasi Tanggap Darurat Satu Atap

padangmedia.com , Selasa, 30 April 2013 18:25 wib

@padangmedia.com

PADANG  - Sekitar 463.966 jiwa penduduk Kota Padang hidup di zona merah ancaman Tsunami. Terkait dengan ancaman tersebut, maka perlu sebuah inisiatif untuk Pengurangan Resiko Bencana (PRB) yang lebih terintegrasi (satu atap) dan mengelola kapasitas masyarakat agar lebih tahan terhadap bencana.

Hal tersebut berdasarkan kajian ancaman kerentanan dan kapasitas oleh konsultan independen MercyCorps, Prof. Dr Afrizal dari Universitas Andalas.

JEMARI Sakato dan MercyCorps merupakan lembaga pelaksana Program Ketahanan Lingkungan melalui Inisiatif Aktif Pengurangan Risiko Bencana (READI) tahun 2013. READI didukung oleh USAID bekerja melakukan penguatan khususnya di tiga kelurahan di Kota Padang. Yaitu kelurahan Parupuk Tabing kecamatan Koto Tangah, kelurahan Ulak Karang Selatan kecamatan Padang Utara dan kelurahan Purus Kecamatan Padang Barat.

"READI bertujuan untuk terwujudnya masyarakat yang lebih aman dan memiliki budaya keselamatan, dengan adanya pola pembangunan yang berorientasi pada pengurangan risiko bencana di Kota Padang," ujar Program Manager READI Mercy Corps, Supriyanto. Dimana Mercy Corps dan JEMARI Sakato menggelar workshop bertema Membangun Ketahanan Lingkungan Melalui Pengurangan Risiko Bencana di Ion Hotel Ulak Karang, Padang, Selasa (30/4).
 
Menurut Supriyanto, Program READI akan membangun sistem pelayanan informasi tanggap darurat di tingkat komunitas dan sekolah serta dilink-kan dengan Pemerintah Daerah untuk menyatukan potensi-potensi kapasitas yang telah ada. Hal ini agar lebih bersinergi dalam PRB terutama dalam konteks tanggap darurat.
"Dengan keterlibatan pemerintah daerah juga akan mendorong pemerintah daerah untuk lebih akuntabel dalam perencanaan dan penganggaran daerah," imbuhnya.

Berdasarkan term of reference-nya, READI memiliki tujuan untuk terwujudnya masyarakat yang lebih aman dan memiliki budaya keselamatan, dengan adanya pola pembangunan yang berorientasi pada pengurangan risiko bencana di Kota Padang. Program 10 bulan READI untuk jangka pendek bertujuan untuk mengurangi tingkat kerentanan masyarakat, sekolah dan secara stimulan dapat memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana alam. READI juga meningkatkan efektifitas upaya PRB melalui kelompok siaga bencana dan stakeholder lain di tingkat komunitas.

"Program READI di Kota Padang, akan menggunakan pendekatan yang disebut dengan Adaptive- collaborative," ungkapnya.
 
Pada tataran Komunitas, lanjut Supriyanto, kita mengetahui bahwa pasca gempa tahun 2009 Kota Padang mengalami Rehab Rekon dengan intervensi dari banyak pihak. Intervensi ini tidak hanya pada kegiatan Rehap Rekon tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat dan infrastruktur yang ada di lingkungan untuk bisa lebih tahan terhadap ancaman bencana terutama Gempa dan Tsunami.

Intervensi Non Governance Organitation(NGO) dan International Non Governance Organitation  (I-NGO) juga membentuk Kelompok Sosial untuk Pengurangan Risiko Bencana. Di Kelurahan juga akan bersinergis dengan kader-kader yang merupakan agen lokal untuk beberapa program pemerintah seperti kader Posyandu, Kader Desa Siaga, TAGANA, ataupun TRC yang merupakan potensi kerelawanan untuk aktifitas Pengurangan Risiko Bencana.

READI JEMARI Sakato akan membangun Sistem Pelayanan Informasi Tanggap Darurat Satu Atap sebagai alat untuk menyatukan potensi potensi yang ada di Komunitas atau lingkungan kedalam suatu Sistem Informasi Satu Atap. Mengingat pentingnya penyediaan informasi yang cepat dan tepat dalam kondisi kedaruratan maka dengan Sistem Informasi Tanggap Darurat Satu Atap akan mengikat kelompok-kelompok sosial yang ada di lingkungan untuk sama sama memberikan informasi yang cepat dan tepat. Tidak hanya di komunitas, Pelayanan Sistem Informasi Tanggap Darurat Satu Atap juga akan di bangun di sekolah terutama sekolah sekolah yang bangunannya berpotensi untuk menjadi shelter vertikal.

"Informasi-informasi terkait tanggap darurat akan bisa di akses dengan cepat dengan asumsi manageman informasi telah dilakukan dengan baik dalam Sistem Informasi Tanggap Darurat Satu Atap. Dengan Dukungan dari Pemerintah daerah baik dari SKPD terkait serta masyarakat Program ini akan menjadi aset lokal yang menjadi potensi untuk memperkuat ketahanan lingkungan terhadap ancaman risiko bencana,"pungkas Supriyanto. (der)